Jumat, 29 Juni 2012

Merangkai Kepingan Puzzle Bernama Premortem















Judul                       : Premortem
Penulis                   : J. Angin
Jumlah Halaman   : 146 Halaman
Terbit                      : 23 April 2012
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama   


Imajinasi manusia tak terbatas. Dalam imajinasi, kita dapat menciptakan dunia sendiri yang bahkan sangat tidak realis. Salah satu cara untuk merefleksikan imajinasi kita adalah dengan membaca novel.  Dalam membaca novel, Pembaca bebas membangun imaji sesuai dengan persepsinya, sementara peran pengarang hanya sebatas penuntun bagi para pembaca untuk mengikuti  alur cerita sampai akhir. Namun, bagaimana bila ada sebuah novel yang menuntut pembacanya untuk menentukan sendiri jalannya cerita? Premortem dapat menjawab pertanyaan itu.

Premortem menawarkan sajian bacaan yang berbeda dari novel kebanyakan, atau bahkan seperti jargon yang diusung dalam rangka memperkenalkan buku ini kepada publik, “Novel Generasi Baru Pertama di Dunia”. Jika diibaratkan, penulis hanya menciptakan suatu dunia bernama Premortem dan pembaca diberi kebebasan untuk menjalankan dunia itu. Tidak ada aturan pakem tentang bagaimana seharusnya jalan cerita. Setiap pembaca diperbolehkan menginterpretasikan cerita sesuai dengan pemahamannya masing-masing, walaupun sebenarnya si penulis masih menyimpan maksud cerita yang sebenarnya di dalam kepalanya.

Premortem ibarat Pulp Fiction, Eternal Sunshine of The Spotless Mind dan Magnolia yang dibukukan pada satu novel. Premortem terdiri dari sekumpulan kisah-kisah absurd yang disusun secara non linear. Sebagian dari kisah-kisah ini bahkan terlihat tidak ada sangkut pautnya dengan beberapa kisah yang masih menjadi satu kesatuan, akan tetapi tetap terhubung pada satu titik tertentu. Inti dari cerita ini sebenarnya seputar problematika kehidupan seorang pria dan seorang wanita yang dituturkan melalui sudut pandang keakuan. Namun lagi-lagi pembaca dibuat bingung menentukan mana yang berupa dialog dan mana yang berupa monolog dikarenakan tidak digunakannya alat bantu semisal tanda kutip untuk membedakan hal tersebut. Penamaan tokoh yang banyak memakai nama karakter yang sama juga sungguh merupakan suatu hal yang ambigu.

Sulit sebenarnya untuk menarik kesimpulan tentang isi novel ini. Pembaca harus jeli dalam menelusuri tiap detil yang ada, karena mungkin itu akan menjadi clue yang dapat menghubungkan suatu kisah dengan kisah yang lainnya. Ini seperti merangkai kepingan puzzle yang berserakan lalu menyusunnya secara utuh. Bedanya tiap kepingan dapat multifungsi sehingga hasil yang terbentuk dapat berbeda-beda. Menurut anda, bagaimana susunan utuh dari puzzle tersebut?