Pada tanggal
30 April 2013 kemarin, dunia menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah dimana untuk pertama kalinya sejak seratus dua puluh tiga tahun kekuasaan tertinggi dipegang oleh seorang ratu, Kerajaan Belanda kembali dipimpin oleh seorang raja. Adalah Willem Alexander, putra mahkota kerajaan Belanda, yang naik tahta menggantikan kedudukan ibundanya Ratu Beatrix. Saya adalah salah seorang yang cukup beruntung untuk bisa menyaksikan suasana perayaan hari nasional Belanda tersebut walaupun hanya melalui rekaman live yang ditonton bersama-sama dengan warga negara Belanda yang bermukim di Indonesia. Namun ada satu hal yang menarik minat saya. Jika
sebelumnya Belanda menetapkan Koninginnedag (Hari Ratu) sebagai hari nasional
mereka yang dirayakan pada tanggal 30 April, mulai beberapa tahun kedepan Belanda
akan merayakan Koningsdag (Hari Raja) yang jatuh pada tanggal 27 April. Penentuan
tanggal tersebut ditentukan berdasarkan tanggal kelahiran sang raja. Dengan kata lain, penobatan Willem sebagai raja merupakan pertanda telah kembalinya sang putra mahkota yang sempat hilang selama seratus dua puluh tiga tahun. Satu
pertanyaan kemudian terlintas di kepala ketika tengah menikmati suasana perayaan tersebut : dari manakah asal mula tradisi yang cukup unik ini? Ternyata hal ini bisa
ditelusuri sejak sekitar 450 tahun yang lalu.
Willem Alexander ketika dinobatkan menjadi raja
Sejarah
modern Belanda dimulai ketika masa perang 80 tahun melawan kekuasaan Spanyol dibawah
raja Philip II pada abad ke 16. Pada saat itu muncul sosok Willem van Oranje,
seorang bangsawan ambisius yang berasal dari keluarga Orange-Nassau, memimpin pasukan
pemberontak melawan kekuasaan tirani raja Philip II. Pemberontakan itu didasari atas penuntutan pengembalian tujuh belas bagian provinsi di wilayah Benelux (Belanda, Belgia, Luxemburg) kepada kaum bangsawan serta menyelesaikan berbagai konflik
agama pada masa itu berdasarkan asas toleransi. Sayangnya, Willem tewas
tertembak sebelum melihat cita-citanya tercapai. Namun berkat kerja keras yang
telah ia bangun, kurang dari dua puluh lima tahun setelah kematiannya berbagai provinsi itu kemudian bersatu menjadi sebuah republik yang pada akhirnya menjadi cikal bakal terbentuknya negara Belanda. Atas jasanya tersebut, Willem van Oranje kerap disebut Vader des Vaderlands (bapak negara Belanda).
Willem van Oranje 80 jarige Oorlog (perang 80 tahun)
Setelah
Republik terbentuk, keturunan keluarga Oranje van Nassau diberi kehormatan
untuk menjabat sebagai Stadtholder (Gubernur) yang ditempatkan di pemerintahan.
Kegemilangan keluarga Orange-Nassau pada masa republik kemudian diteruskan oleh Maurice dan Frederik
Hendrik yang berlaku sebagai Stadtholder di masanya. Bentuk negara Republik hanya bertahan hingga tahun 1795 sebelum akhirnya Belanda jatuh kepada kekuasaan Napoleon dari Perancis. Setelah
sempat berada di bawah pengaruh kekuasaan Napoleon, Belanda
memulai periode baru sebagai sebuah Kerajaan. Adalah Willem I yang kembali
dari pengasingan, membentuk sistem kerajaan pada tahun 1815. Sistem kerajaan Belanda
tersebut merupakan pelopor dari bentuk kerajaan monarki konstitusional saat ini dipakai. Willem I pun menjadi raja pertama dalam sejarah kerajaan Belanda. Pada tahun 1848 kembali terjadi perubahan pada sistem kerajaan, dimana Raja Willem II merubah konstitusi dengan menyatakan bahwa
kekuasaan monarki dikurangi dan kekuasaan rakyat menjadi lebih besar. Hal itu
dianggap sebagai awal dari lahirnya demokrasi di Belanda. Pada tahun 1890, dimulai sejarah baru pada keluarga kerajaan ketika Wilhelmina naik tahta sebagai ratu untuk pertama kalinya dalam sejarah Belanda. Hal ini terjadi karena raja Willem III, ayah dari Wilhelmina, kehilangan semua putranya yang lalu kemudian peran sebagai posisi tertinggi dalam kerajaan diberikan kepada Wilhelmina. Tradisi ratu sebagai penguasa tertinggi di Belanda terus bertahan selama seratus dua puluh tiga tahun kedepan.
Willem I
Wilhelmina
Selain
membawa pengaruh besar terhadap sejarah bangsa Belanda, keluarga Orange-Nassau
juga merupakan pelopor dari simbol yang sekarang lazim dikenal sebagai sesuatu yang khas Belanda. Misalkan Oranye, warna yang menjadi trademark bagi negeri Belanda.
Oranye sendiri merupakan bagian dari lambang keluarga Oranje van Nassau. Selain itu lagu kebangsaan
Belanda, Wilhelmus, merupakan mars yang dilantunkan ketika perang 80 tahun
melawan tirani raja Philip II, dan baru kemudian pada tahun 1932 diperkenalkan sebagai national anthem Belanda.
Oranye, warna khas Belanda yang terlihat mencolok
Kembali ke
masa sekarang, ketika dimana salah satu putra keluarga Orange-Nassau siap mengemban tugas menjadi pemimpin bagi negaranya. Upaya revolusioner kembali muncul dalam keluarga ini ketika Willem pada hari penobatannya sebagai raja Belanda mengumumkan tidak akan melanjutkan tradisi keluarga kerajaan sebagai raja Willem ke IV dan lebih memilih menggunakan nama Raja Willem Alexander. Menurut banyak pengamat sejarah raja-raja di Eropa, hal ini merupakan langkah Willem dalam memberi citra modern pada tradisi monarki yang sebelumnya dianggap ketat dan kaku. Suatu hal yang menandakan bahwa sang raja baru siap meneruskan tradisi kepeloporan keluarga
dan bangsanya.
Referensi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar