Terbit : 23 April 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Imajinasi manusia tak terbatas.
Dalam imajinasi, kita dapat menciptakan dunia sendiri yang bahkan sangat tidak
realis. Salah satu cara untuk merefleksikan imajinasi kita adalah dengan
membaca novel. Dalam membaca novel, Pembaca
bebas membangun imaji sesuai dengan persepsinya, sementara peran pengarang
hanya sebatas penuntun bagi para pembaca untuk mengikuti alur cerita sampai akhir. Namun, bagaimana
bila ada sebuah novel yang menuntut pembacanya untuk menentukan sendiri
jalannya cerita? Premortem dapat menjawab pertanyaan itu.
Premortem menawarkan sajian
bacaan yang berbeda dari novel kebanyakan, atau bahkan seperti jargon yang
diusung dalam rangka memperkenalkan buku ini kepada publik, “Novel Generasi
Baru Pertama di Dunia”. Jika diibaratkan, penulis hanya menciptakan suatu dunia
bernama Premortem dan pembaca diberi kebebasan untuk menjalankan dunia itu. Tidak
ada aturan pakem tentang bagaimana seharusnya jalan cerita. Setiap pembaca
diperbolehkan menginterpretasikan cerita sesuai dengan pemahamannya masing-masing,
walaupun sebenarnya si penulis masih menyimpan maksud cerita yang sebenarnya di dalam kepalanya.
Premortem ibarat Pulp Fiction, Eternal
Sunshine of The Spotless Mind dan Magnolia yang dibukukan pada satu novel. Premortem
terdiri dari sekumpulan kisah-kisah absurd yang disusun secara non linear. Sebagian
dari kisah-kisah ini bahkan terlihat tidak ada sangkut pautnya dengan beberapa
kisah yang masih menjadi satu kesatuan, akan tetapi tetap terhubung pada satu
titik tertentu. Inti dari cerita ini sebenarnya seputar problematika kehidupan
seorang pria dan seorang wanita yang dituturkan melalui sudut pandang keakuan.
Namun lagi-lagi pembaca dibuat bingung menentukan mana yang berupa dialog dan
mana yang berupa monolog dikarenakan tidak digunakannya alat bantu semisal
tanda kutip untuk membedakan hal tersebut. Penamaan tokoh yang banyak memakai
nama karakter yang sama juga sungguh merupakan suatu hal yang ambigu.
Sulit sebenarnya untuk menarik
kesimpulan tentang isi novel ini. Pembaca harus jeli dalam menelusuri tiap
detil yang ada, karena mungkin itu akan menjadi clue yang dapat menghubungkan suatu
kisah dengan kisah yang lainnya. Ini seperti merangkai kepingan puzzle yang
berserakan lalu menyusunnya secara utuh. Bedanya tiap kepingan dapat
multifungsi sehingga hasil yang terbentuk dapat berbeda-beda. Menurut anda,
bagaimana susunan utuh dari puzzle tersebut?
nice review .
BalasHapusah, subjektifitas nya boleh di share juga gak nih mas Kencana Bayu ?
di realitasubjektif.blogspot.com - soalnya konsep web itu memang tentang subjektifitas :D
terima kasih mas J. Angin
BalasHapuswah boleh tuh, oke nanti saya main2 kesana :D
btw sebenernya resensi premortem yg ini sama dengan yg ada di web suma ui, cuman resensi di blog ini ada sedikit modifikasi hehe